Sekilas tentang kang UJ


Ujang Supriyatna, itulah nama yang tercantum sampai saat ini baik di ijazah maupun di setiap tanda pengenal yang saya punya. Nama itulah yang diberikan orang tua dulu, tepatnya kakek, karena waktu dilahirkan dulu kondisi bapak sedang tidak di rumah. Jadi kakeklah yang memberikan nama itu.

Sejak lahir (tgl 28 november 1989) tinggal di kaki gunung Joang. Tepatnya di sebuah perkebunan teh bernama "Perkebunan Bojong Asih", Kampung Bojong Asih RT 02/07 Desa Cihaur, Kecamatan Simpenen, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat-Indonesia.

Sebagai anak gunung, sudah menjadi hal biasa berinteraksi dengan alam setiap harinya. Main petak umpet di sela-sela pohon teh, berburu burung, mengembala kambing (Ngangon), bercocok tanam di tegalan kampung, mencari belut di sungai dan di sawah (Ngurek), berenang sepuasnya di danau, mengambil buah-buahan di hutan gunung Joang,  merupakan hal biasa kami lakukan dulu. Bahkan masih banyak lagi hal lain yang menarik. Mungkin jika di bukukan akan menghabiskan puluhan judul..he.

Masa sebelum SD saya dan teman-teman habiskan di alam. Karena kami tidak punya sarana pendidikan dan  bermain seperti sekarang. Sekarang banyak TK, Paud, Kelompok bermain, kami dulu hanya bermain dengan alam. Makanya sampai sekarang kami sangat mencintai guru kelas 1 SD, karena tugasnya sangat berat. Mengurusi kami yang layaknya anak-anak TK padahal sudah masuk SD.

SD Negeri Bojong Asih selanjutnya menjadi rumah ke tiga saya selain surau tempat mengaji. SD Negeri Bojong Asih hanya memiliki 5 ruang kelas. Jadi kelas 1 dan 2 harus berbagi. Kelas satu belajar sampai jam 10 dan setelahnya masuk kelas 2. Waktu itu keadaan kelas lumayan menyedihkan. Beberapa kaca jendela sudah pecah, pintu kelas juga sebagian besar sudah lapuk bagian bawahnya, bila musim hujan bocor di mana-mana menjadi santapan biasa kami.

Sepulang sekolah biasanya kami langsung ke Madrasah sampai sore. Malamnya mengaji di surau. Malam merupakan saat-saat yang spesial waktu itu. Karena untuk sampai di surau kami harus memakai obor. Mengaji pun menggunakan lampu semprong, sejenis lampu kecil yang berbahan bakar minyak tanah, bersumbu gabungan benang dan dibatasi kaca. Indah sekali mengenang hal itu.

Kehidupan di kampung sangat kami nikmati. Walau jauh dari perkotaan tapi kehidupan di kampung sangat berkesan. Lulus dari SD Negeri Bojong Asih, saya melanjutkan sekolah di SMP Negeri 4 Palabuhan Ratu. Setahun kemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 2 Simpenan karena Simpenan sudah memisahkan diri dari kecamatan Palabuhan ratu.

Jarak dari rumah ke SMP tidak terlalu jauh, hanya sekitar 7 Km. Sebelum kakek membelikan motor, saya biasa naik angkot dan bus. Lima ratus rupiah cukup waktu itu untuk ongkos. Kadang jika bus atau angkot penuh kita terpaksa jalan melewati hutan Paltilu dan hutan Perkebunan yang lumayan menyeramkan.

SMP kami tidak sama dengan SMP yang ada di kota. Kita hanya memiliki 6 ruang kelas. Itupun pas saya masuk, hanya satu kelas yang terisi. Maklum pendidikan waktu itu belum dianggap hal penting seperti sekarang.

Lulus dari SMP Negeri 2 Simpenan, Alhamdulillah saya diterima di SMA 3 Sukabumi. Waktu itu SMA 3 Sukabumi merupakan SMA terbaik di Sukabumi. Untuk masuk ke sana harus memiliki nilai ujian yang bagus. Hampir semua lulusan SMP memimpikan masuk SMA 3. SMA tiga juga dikenal dengan sekolahnya orang-orang kaya. Beruntung saya bisa masuk SMA 3, padahal kakek saya hanya seorang pembabat rumput yang berpenghasilan tidak lebih dari 400 ribu perbulan.

Hidup di Sukabumi, jauh dari orang tua, mengharuskan saya hidup mandiri. Akhirnya saya putuskan untuk tinggal di sebuah pesantren bernama Pesantren Al Mahfudzdziyah. Di pesantren itu saya mendapat banyak pengalaman. Apalagi saya diberi kesempatan untuk mengajar di Madrasah. Lumayan ada pemasukan untuk bertahan hidup. Selain itu saya juga berjualan pulsa dan kartu perdana. Kadang menjadi kuli pembuat makalah untuk teman-teman yang kelebihan uang dan malas mengerjakan tugas. Kadang jika libur, ikut bekerja di PLN memeriksa KWH di rumah penduduk atau bekerja ikut bekerja di Dinas PU mengecet trotoar yang warnanya sudah usang.

Alhamdulillah Support dari guru-guru SMA sangat bagus. Hingga akhirnya saya bisa lulus dari SMA 3 lalu melanjutkan kuliah di Akademi Kimia Analisis Bogor. Orang-orang suka menyebutnya AKA Bogor. Banyak sekali pengalaman berharga selama di AKA. Terutama tentang Organisasi dan Bisnis.

Lulus dari AKA Bogor pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta di daerah Jakarta dan Bogor. Beberapa bulan setelah lulus kuliah, menikah dengan seorang perempuan Jogja, bernama Ardian Prihastuti. Alhamdulillah sekarang kami sudah dianugerahi seorang anak perempuan yang kami beri nama Anwah Dzakiya.

Sekarang saya dan keluarga tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 655 Kebrokan RT 21/07 Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta-DIY.


0 komentar:

Posting Komentar