CIta-cita

Oleh: Ujang Supriyatna

Perawatan yang kujalani di rumah sakit tidak terlalu lama. Sekarang tubuhku sudah normal. Perbedaannya, sekarang aku lebih kurus. Ayah dan ibuku menginginkan aku tetap tinggal di dekat tempatku di terapi untuk sementara waktu. Mereka mempercayakan semuanya kepada kang Hasan. Aku sendiri menyambut rencana mereka dengan baik karena hal itu juga yang aku inginkan.

Aku ingin belajar Islam lebih banyak dari Kang Hasan. Aku juga ingin mengenal sosok kang Hasan lebih dalam. Bahkan sudah aku rencanakan akan kuliah di Kota Sukabumi saja. Di sini ada Universitas Muhammadiyah Sukabumi, aku bisa kuliah sambil memperdalam ilmu keIslamanku. Aku belum memberitahukan rencana itu, tapi aku yakin orang tuaku akan setuju.

Sekarang namaku bukan lagi Yuda. Sudah kuganti dengan nama pilihanku sendiri,  Furqon.  Nama lain Al Qur’an. Aku sangat cinta Al Qur’an makanya memilih nama itu. Panggilan Ayah dan Ibu pun sudah tidak aku pakai lagi, aku memanggil mereka Abi dan Ummi. Walau artinya sama tapi mempunyai kesan yang berbeda. Aku sudah mereka titipkan sepenuhnya kepada kang Hasan. Mereka sangat mempercayainya.

Aku tinggal di tempat yang sama dengan kang Hasan, di Pesantren Al Mahfudzdziyah. Sebuah pesantren khusus putera  yang terletak di daerah Babakan Mageung, Ciaul, kota Sukabumi. Pesantren yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya akan menjadi tempat berharga bagiku dalam memahami keindahan Islam. Di sini aku mendapatkan perlakuan yang sangat  baik. Tidak pernah dibedakan walau aku seorang yang masih baru di Islam.

Pesantren itu terdiri dari dua lantai. Santri  di sini biasa  menyebut tempat yang kami tinggali ini dengan sebutan kobong. Santrinya tidak terlalu banyak, hanya ada delapan puluh orang. Mayoritas santri adalah pelajar SMA dan sebagian mahasiswa yang sedang mengambil S1 dan Pasca Sarjana. Namun ada beberapa orang yang hanya lulusan pesantren, mereka hanya lulus SD di sekolah formalnya.

Pesantren Al Mahfudzdziyah cukup terkenal di daerah Sukabumi, dengan sosok kiai Muhsin sebagai pemimpinnya. Kami biasa memanggilnya Abah. Abah merupakan panggilan akrab beliau dikalangan para santri. Menurut sejarah pesantren, tempat yang aku tinggali ini dibangun oleh seorang Kiai terkenal bernama Kiai Mahfudz. Oleh sebab itu diberi nama Al Mahfudzdziyah. Kiai Mahfudz sendiri adalah ayahnya Abah. Jadi, pesantren Al Mahfudzdziyah ini masih tergolong muda karena baru dua generasi.

Kondisi pesantren Al Mahfudzdziyah menurutku sangat kondusif. Walaupun ada di jantung kota Sukabumi, tapi keadaannya sangat nyaman, jauh dari jalan raya dan suara kendaraan bermotor. Pesantren ini memiliki banyak sarana penunjang untuk berlangsungnya kegiatan para santri.

Di sebelah timur bertengger masjid kokoh berlantai dua yang bernama Masjid Al Mahfudzdziyah. Masjid yang menjadi tempat para santri belajar karena keterbatasan tempat. Tradisi di pesantren ini santri dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama kelompok pemula, biasanya belajar di lantai dua. Kelompok yang kedua kelompok mahir, mereka biasanya belajar di lantai dasar. Untuk orang-orang yang masih awam terhadap Islam belum diikutkan ke dalam kelompok itu, namun mereka di gembleng dulu di ruang diskusi oleh para senior. Hal ini dilakukan agar kegiatan menuntut ilmu berjalan lancar.

Masjid Al Mahfudzdziyah sendiri memiliki keunikan yang tidak kalah menarik dengan masjid yang lain. Di masjid ini ada tiga makam di dalamnya. Hal unik inilah yang menjadikan masjid ini banyak dikunjungi orang-orang. Konon ceritanya, dulu masjid Al Mahfudzdziyah itu tidak sebesar sekarang, makam itu pun awalnya tidak berada di dalam masjid. Ketiga makam itu berada di luar. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk di daerah sekitar pesantren, maka disetujui untuk memperbesar  masjid tersebut. Nah ketika disetujui pembesaran masjid, ketiga makam itu termasuk dalam lahan yang akan digunakan masjid. Akhirnya setelah diadakan musyawarah makam itu tidak akan dibongkar, tapi tetap ada dan menyatu dengan masjid.  Memang benar demikian, makam itu sampai sekarang masih ada namun tidak mengganggu orang melaksanakan ibadah karena letaknya ada di  belakang, di pojok sebelah kanan tepatnya.

Di sebelah selatan pesantren ada sebuah Madrasah, terdiri dari enam kelas. Empat dari kelas tersebut dijadikan sarana untuk pengamalan ilmu para santri kepada masyarkat dengan mengajarkan Islam kepada  anak SD sampai SMP di sekitar pesantren. Selain bisa mengamalkan ilmunya, santri yang terlibat di sana juga mendapatkan honor dari pesantren. Walau tidak besar, tapi cukup untuk para santri.

Madrasah yang diurus oleh santri itu dibagi menjadi enam kelas sesuai dengan pengetahuan anak. Dikenal dengan nama MDA singkatan dari Madrasah Diniah Awaliyah. Meskipun sering dianggap sepele oleh sebagian orang, madrasah ini ternyata sangat berperan dalam mencetak akhlak anak-anak sekitar pesantren. Dengan adanya madrasah ini, anak-anak sekitar pesantren bisa memanfaatkan waktunya setelah pulang sekolah untuk belajar mendalami Islam dengan pengajar yang mumpuni dan tentunya murah.

Dua kelas lainnya digunakan  sebagai bisnis dibidang pendidikan dengan dijadikan TK. Dengan berlabelkan Al Mahfudzdziyah orang-orang tidak ragu lagi. Selain itu untuk menunjang kegiatan ekonomi, pesantren juga memiliki sawah dan kolam ikan. Kedua tempat itu santri yang mengagarap dan hasilnya untuk kepentingan santri sendiri.

Semua yang aku tahu tentang pesantren adalah hasil dari berkeliling dengan kang Hasan kemarin. Kami berbincang banyak hal. Dia menanyakan bagaimana caranya aku menjadi atheis lalu gila. Aku ceritakan semuanya kepada dia, mulai dari pemikiran salahku tentang kebebasan, mendapat teman lewat internet, maksiat di Jakarta, hukuman dari Ayah sampai aku terbangun karena suara Al Qur’an.

Kang Hasan mendengarkan dengan serius, sesekali dia bertanya kepadaku. Kang Hasan sekarang sudah mengetahui tentangku. Sekarang kesempatanku mengenalnya. Aku bertanya beberapa hal pada Kang Hasan tentang dirinya, keluarganya, usahanya, pendidikan dan lain-lain.

Kang Hasan menjawab seperlunya tidak begitu detail. Dia hanya menjawab kalau dia berasal dari daerah Sukabumi bagian selatan. Pendidikannya lebih konsen ke Al Qur’an dan Bahasa Arab. Bekerja sebagai Guru Al Qur’an dan guru Bahasa Arab. Untuk pendidikan formal dia tidak terlalu bangga dengan gelar yang penting bisa menikmati hidup sebagi muslim yang baik. Aku masih penasaran dengannya. Terlihat seperti ada banyak hal yang dia tutupi dariku. Belum sempat bertanya, dia malah bertanya lebih dulu tentang cita-citaku.
“Aku mempunyai cita-cita menjadi seorang guru besar di Universitas ternama Kang, meneruskan jejak orang tua. Aku juga ingin menyandang gelar profesor,” jawabku.

Kang Hasan tersenyum. Aku balik bertanya kepadanya.

“Sudah aku katakan aku ingin menikmati hidup sebagai muslim yang baik. Itu sudah cukup,” jawabnya mengulangi kata-katanya yang tadi.

“Semua orang juga sama kang kalau seperti itu. Pasti ada lagi cita-cita kang Hasan. Yang spesifik Kang kalau cita-cita,” kataku. Kang Hasan berpikir sebentar.

“Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain,” kang Hasan mengucapkannya sambil tersenyum ringan.

Aku semakin bingung dengan maksudnya. Seorang Muslim yang baik dengan orang yang bermanfaat bagi orang lain tidak ada bedanya bagiku. Semua sama.

“Kang Hasan ini bagaimana, bukankah muslim yang baik itu yang bermanfaat bagi orang lain. Kang Hasan memberikan jawaban yang sama dengan tadi,” kataku. Tapi kang Hasan malah tersenyum.

Susah benar mengorek kepribadian kang Hasan. dia sangat hati-hati dalam berbicara masalah dirinya sendiri. aku bisa melihatnya dari perkataan dan semua jawaban yang dia lontarkan ketika menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Aku terdiam sejenak memikirkan cara yang terbaik untuk mengorek siapa kang Hasan sebenarnya. Namun belum sempat aku bertanya, dia sudah bertanya duluan.

“Cita-citamu tadi apa?” tanya kang Hasan.

“Aku ingin menjadi seorang guru besar di Universitas ternama Kang, meneruskan jejak orang tua. Aku juga ingin menyandang gelar profesor,” jawabku.

“Guru besar di Universitas ternama. Ya, sudah pasti Profesor. Menurutku itu bukan cita-cita,” kata kang Hasan membuatku bingung.

“Bukan cita-cita? Maksud kang Hasan apa?” Aku penasaran dan tidak mengerti maksud ucapan kang Hasan.

“Ya, menurutku itu bukan cita-cita.”

“Lalu apa Kang?”

“Itu hanya sebuah jalan menuju cita-cita yang mulia.”

Perkataan kang Hasan membuatku semakin bingung. Sudah jelas-jelas yang aku katakan itu adalah cita-cita, tapi dia mengatakan bukan. Sebenarnya apa yang dia maksud dengan cita-cita. Belum sempat aku bertanya lagi dia sudah menjelaskan lebih dulu.

“Yang namanya cita-cita mulia itu harus berada di akhir. Bisa dimiliki semua orang. Realistis atau bisa dilakukan. Tidak pernah membuat orang yang ingin mengejarnya depresi, stres bahkan bunuh diri. Berorientasi ibadah dan akhirat.”

“Aku tidak mengerti Kang, tolong dijelaskan,” pintaku.

“Baiklah,” katanya sambil tersenyum.

“Sudah kubilang tadi bahwa cita-citaku adalah bermanfaat bagi orang lain. Menurutku itulah cita-cita di dunia ini satu-satunya. Tidak ada yang lain. Yang lain hanyalah jalan menuju cita-cita itu sendiri. Sekarang aku mau bertanya, kamu tadi bercita-cita menjadi seorang profesor di Universitas ternama, ya kan? Seandainya kamu telah mendapat gelar professor, apa yang akan kamu lakukan?”

“Ya mengamalkan ilmu yang aku punya Kang, apalagi,” jawabku. Pertanyaan itu semua orang juga pasti akan tahu jawabannya.

“Seandainya tidak tercapai?”

Aku bingung. Apa yang harus aku katakan karena aku sendiri tidak punya cadangan cita-cita lain. Aku baru tersadar. Aku harus mempunyai cita-cita lebih dari satu supaya kalau cita-cita pertama tidak tercapai, aku masih bisa menggapai cita-cita lain. Aku mengerti sekarang apa yang dimaksud kang Hasan.

“Kenapa diam? Kamu tidak bisa menjawabnya kan?” tanyanya lagi.

“Aku tidak punya cita-cita lain selain itu Kang. Mungkin aku harus mulai memikirkan cita-cita lain,” jawabku.

“Tidak perlu. Tidak perlu repot-repot seperti itu,” kata kang Hasan. Senyumnya terlihat lagi seperti seorang yang senang mendengar jawabanku.

“Inilah yang terjadi pada kita sekarang. Kita semua semua sudah salah dalam menilai cita-cita. Kita telah menganggap jalan menuju cita-cita sebagai cita-cita. Seperti kamu barusan itu. Profesor itu bukan cita-cita, tapi jalan merealisasikan cita-cita sesungguhnya,” kata kang Hasan. Dia berbicara sangat semangat.

“Maksudnya Kang?”

“Seperti yang aku katakan tadi, yang namanya cita-cita mulia itu harus berada di akhir. Bisa dimiliki semua orang. Realistis atau bisa dilakukan semua. Tidak pernah membuat orang yang ingin mengejarnya depresi, stres, bahkan bunuh diri. Juga berorientasi pada ibadah dan kehidupan akhirat. Yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah kuantitas dan kualitas cita-cita itu sendiri. Coba lihat yang kamu sebutkan tadi, apakah memenuhi semua yang aku katakan?”

“Tidak, Kang.”

“Kita bisa melihat banyak sekali orang yang telah salah menilai cita-cita. Menganggap jalan menuju cita-cita sebagai cita-cita. Contohnya, banyak orang yang ingin menjadi anggota DPR. Mereka menganggap menjadi anggota DPR adalah cita-cita mereka. Ketika mereka menjadi anggota DPR, mereka bingung mau berbuat apa, akhirnya mereka korupsi. Ketika mereka gagal menjadi anggota DPR, mereka frustasi dan ada yang bunuh diri. Banyak orang yang berkeinginan menjadi dokter. Setelah jadi dokter mereka bingung mau berbuat apa lagi, akhirnya melakukan mal praktek, ketika tidak jadi ujung-ujungnya frustasi. Begitu juga dengan hal lainnya seperti menjadi pilot, polisi, diplomat, pengusaha, pengacara, motivator, ustadz, kiai, dan lain sebagainya.”

Aku terdiam mendengar perkataan kang Hasan. Baru pertama kali ini aku mendengar pemikiran gila seperti yang disampaikannya. Tapi semua yang dikatakannya masuk akal. Aku semakin penasaran dengan kalimat-kalimat yang akan dia sampaikan selanjutnya.

“Ketika mereka tidak bisa meraih apa yang mereka anggap cita-cita itu, mereka mengatakan bahwa Allah tidak adil. Padahal Allah itu Maha Adil. Mereka sendiri yang tidak adil. Tidak bisa menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya sehingga mereka penuh dengan kebingungan.”

“Menurutmu siapa yang berhak mendapatkan hal-hal yang semua orang bilang cita-cita itu? Pasti jawabannya orang kaya dan orang-orang pandai. Iya kan?”

“Iya, Kang.”

“Kalau begitu apa yang bisa didapatkan oleh orang miskin dan orang bodoh yang mempunyai keinginan sama dengan mereka? Sudah pasti mereka akan menyalahkan Allah lebih dari orang yang gagal meraih apa yang mereka sebut cita-cita. Jadi, di mana keadilan itu kalau memang yang aku sebutkan tadi cita-cita. Padahal tidak semua orang bisa melakukannya dan mendapatkannya.”

“Jadi apa menurut kang Hasan cita-cita itu?”

“Cita-cita menurutku di dunia ini hanya ada satu yaitu bermanfaat bagi orang lain. Tidak ada yang lain lagi. Semua orang punya kesempatan yang sama dalam meraihnya. Yang lain hanya sebuah jalan menuju cita-cita mulia itu. Setelah kita tahu cita-cita kita, baru kita menentukan jalan terbaik yang bisa kita lakukan untuk mengejar cita-cita itu,” kata kang Hasan. Aku lihat sorot matanya semakin berbinar penuh semangat.

“Jika seseorang sadar akan cita-citanya maka jalan apa pun yang dia pakai tidak akan pernah tergelincir. Profesor tidak akan mau melakukan riset menciptakan sesuatu untuk kejahatan, DPR tidak akan pernah korupsi, presiden tidak akan pernah lalai, dokter tidak akan melakukan mal praktek, polisi tidak akan brutal pada masyarakat, dan lain sebagainya. Pastinya semua akan berjalan dengan baik dan sesuai harapan.”

Sekarang aku tahu apa maksud kang Hasan sebenarnya. Dia memang jenius. Pantas dia seperti tidak terlalu peduli dengan pendidikan formal, terbukti dia hanya mengatakan pernah lulus SD . Ternyata seperti itu konsep cita-citanya. Jenius, benar dan masuk akal.

“Benar Kang aku telah salah selama ini. Benar yang dikatakan kang Hasan, bisa jadi aku depresi ketika tidak bisa mencapai gelar profesor. Tapi sekarang semua sudah jelas. Aku sangat berterima kasih pada kang Hasan,” kataku.

“Alhamdulillah, kita harus selalu ingat bahwa yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas kita dalam hal bermanfaat bagi orang lain.  Tidak masalah kita sebagai seorang tukang parkir yang penting kita bisa lebih bermanfaat daripada seorang anggota DPR, tidak masalah kita berijazah SD yang penting kita lebih bermanfaat bagi orang lain. Tapi sebagai orang Islam yang mewarisi sifat cerdas dari Rasulullah pastinya kita akan mencari jalan yang memungkinkan kita mempunyai kualitas dan kuantitas terbaik terhadap cita-cita kita. Karena akan sangat jauh berbeda manfaatnya apa yang dilakukan tukang parkir yang baik dengan anggota DPR yang baik.”

“Lalu bagaimana ciri bermanfaat itu sendiri Kang?”

“Oh itu, mudah sekali. Kita dikatakan bermanfaat jika semua yang ada pada diri kita bisa memberikan kesenangan dan kebahagiaan kepada orang lain, lingkungan kita, bahkan alam sekitar. Keberadaan kita selalu memperbaiki keadaan, bukan sebaliknya. Kehadiran kita selalu dinantikan dan orang-orang selalu menyambut kita dengan senyuman. Kepergian kita membuat mereka sedih dan menangis. Orang lain selalu sibuk membicarakan kebaikan kita. Jika orang lain diminta untuk mengatakan kejelekan kita, mereka bingung karena tidak bisa menemukan kejelekan kita. Dan yang terakhir kisah hidup kita selalu menjadi inspirasi bagi orang lain. Itulah bermanfaat menurutku,” kata kang Hasan.

“Memang ada orang seperti itu Kang?”

“Ada.”

Aku masih bingung dan tidak percaya ada orang yang seperti kang Hasan bilang. Aku terdiam tidak mengatakan apa pun. Tiba-tiba kang Hasan berkata lagi.

"Rasulullah sendiri yang bilang, “Bahwa sebaik-baiknya diantara kalian,” kata Rasulullah, “adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Kita harus ingat bahwa semua perkataan rasul itu benar dan pasti terjadi. Begitu juga dengan orang bermanfaat yang aku katakan. Itu pasti bisa diraih manusia. Asalkan benar-benar meraihnya. Karena Rasul sendiri yang memberi jaminan, siapa yang bersungguh-sunggu dia akan mendapatkannya,” kata kang Hasan.

Aku menjadi yakin setelah kang Hasan menjelaskannya. Aku bertekad harus menjadi salah satu dari orang yang bermanfaat. Memang benar yang dikatakan kang Hasan.  Bisa jadi mereka yang ada di negeri ini, terutama orang-orang yang mengemban berat amanah rakyat tidak tahu konsep cita-cita seperti yang kang Hasan bilang. Aku segera menghilangkan pikiranku tentang para wakil rakyat yang ada di DPR. Biarkan saja mereka bekerja dengan baik dan jujur walau tidak pernah mendengar perkataan kang Hasan sepertiku.

0 komentar:

Posting Komentar