"Kami mencintaimu karena Allah, Ummi."


Kamis, 06 Desember 2012..13.00-14.00, Rumah Sakit Sardjito

Hari rabu saya mendapatkan kabar bahwa istri teman saya-sebut saja Sarah-di organisasi sedang mendapatkan ujian Dari Allah. Sarah sudah dirawat di rumah sakit sejak selasa malam. Mendengar kabar tersebut, saya dan istri merencanakan untuk menjenguknya. Kami sepakat akan menjenguknya hari kamis sambil makan siang bersama.

Sekitar pukul 12.30 istri menghampiri saya di tempat kerja, lalu kami berangkat bersama menuju rumah sakit Sardjito. Gerimis tidak mematahkan langkah kami untuk sampai di rumah sakit. Sampai di rumah sakit kami mencari ruangan yang ditempati Sarah. Sayangnya ketika kami sampai di kamarnya, Sarah tidak ada. Yang ada hanya kakaknya. Teman saya pun, suami Sarah, ternyata tidak ada karena sedang bekerja.

Saya berbincang dengan kakak Sarah. Dari kakaknya saya mendapat informasi, bahwa Sarah sedang melakukan CT Scan. Akhirnya kami menunggu. Beberapa menit kemudian terlihat seorang perawat mendorong kursi roda yang diduduki seorang perempuan berjilbab. Saya dan Istri langsung mengenali siapa perempuan berjilbab itu, dia Sarah. Sarah memasuki kamar lalu dibaringkan di tempat tidur. Sementa saya dan kakaknya, dibantu istri juga mengambil semua perlengkapan dia. Sebab saat itu begitu tiba dari ruangan CT Scan, Sarah langsung dipindah kamarkan.

Di kamar kami berbincang layaknya orang yang menjenguk orang sakit.  Beberapa hari sebelumnya Sarah  sudah melakukan operasi getah bening. Namun setelah beberapa hari, dia merasakan gejala yang sama seperti sebelum dia dioperasi. Dia merasakan semua tulangnya sakit seperti diremas-remas. Walau begitu dia tetap sabar. Dia sangat yakin Allah menyayanginya dan itu adalah ujian untuk meningkatkan derajatnya di sisi Allah.

Hari sebelumnya Sarah sudah diperiksa oleh enam dokter spesialis. Tapi keenam dokter tersebut tidak bisa menyimpulkan penyakit yang menyerangnya. Oleh sebab itu dilakukan CT Scan. Waktu itu saya ingat anak-anak mereka. Mereka memiliki empat orang anak. Anak kesatu laki-laki kelas 5 SD tinggal di pesantren Al Qur'an, anak kedua laki-laki kelas 3 SD, anak ketiga perempuan di TK besar, dan anak terakhir laki-laki usia 1,5 tahun.  Saya menanyakan empat orang anak tersebut karena tidak melihat mereka. Ternyata rumah sakit mempunyai aturan anak dibawah 12 tahun tidak boleh dibawa ke rumah sakit.

"Amah, ini ada surat dari anak-anak," kata Sarah pada Istri saya.

Saya dan Istri langsung membukanya. Ternyata benar. Keempat anaknya membuat surat untuk Sarah. Tentunya dengan tulisan masing-masing. Isi surat itu tidak banyak, semuanya seragam, hanya satu kalimat.
"Kami mencintaimu karena Allah, Ummi."

Hampir saja airmata ini tumpah saat membacanya. Beruntung saya bisa menahannya. Lika-liku coretan pensil yang tidak beraturan seolah sebuah cahaya terang yang menyemangi Sarah untuk segera sembuh. Sambil merasakan sakit, Sarah menceritakan bahwa dia bangga pada keempat anaknya. Subhanallah..

"Semoga Allah memberikan yang terbaik pada Ummi kalian. Ami dan Amah akan selalu mendukung kalian."

0 komentar:

Posting Komentar