"Dialogue" (Ibu)

OlehMuhammad Haritzahzen

Bissmillahirahmanirrahim…. 

Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’
Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28) 

…Ini kisah inspirasi yang ku dengar dari seorang pria berusia kurang lebih 55 Tahun di tempat kerjaku, sebut saja ia Pak Dim...begitulah aku dan rekan-rekan lain biasa menyapanya, Badannya tinggi namun sudah agak  terbungkuk, rambutnya pendek dan keriting, bila melihat wajahnya mencirikan seperti ia keturunan orang Sulawesi walaupun aku tahu pasti ia orang bekasi asli. ,kulitnya yang hitam legam membuat yang melihatnya akan menyadari bahwa itu karena bertahun-tahun tersengat sinar Matahari (Maklum..tempat kami bekerja sehari-hari di Lapangan ^_^), Pak Dim adalah orang yang sederhana…tidak banyak tutur kata yang diucapnya, Alhamdulillah  walau sudah cukup tua beliau  masih  konsisten menjaga ibadah shalat 5 waktu. Bulan ini adalah bulan terakhirnya kerja di Pabrik dimanaku bekerja karena beliau harus pensiun, Kisah ini mungkin salah satu dari Ribuan kisah Inspiratif yang sering kita dengar tentang sosok luar biasa yang tidak akan asing lagi bagi kita,  disuatu siang selepas Istirahat sambil mengisi Tanki bahan Kimia aku coba mendekatinya untuk menyapa :  

Me : “Pak Dim…! (Sambil Senyum ^_^)

Pak Dim : “ya..Zen.?.”

Me : (terdiam sejenak Sambil Mikir tema apa ya..yang enak buat diobrolin…Nah dapat..infotainment aja deh..he..^_^ ) “Pak Dim, nonton infotainment belakangan ini ga,..kalo saya amati.. artis-artis.. sekarang “Banyak yang melahirkan anaknya secara operasi Sesar,”?
Bukannya menanggapi pertanyaanku Pak Dim justru malah bercerita tentang Kisahnya ,

Pak Dim : “Saya jadi inget dulu waku hamil pertama Istri saya…waktu itu karena keterbatasan , persalinan istri saya dibantu dukun beranak, waktu itu  saya bekerja di PT baru beberapa bulan”…tuturnya

Pak Dim : “Nah…gak lama setelah anak saya lahir.. Istri saya Kejang-kejang…matanya melotot terus…karena Panik akhirnya saya panggil Bidan ke rumah, terus sama bidan itu akhirnya isteri saya disuntik..tapi kejang-kejang istri saya tetep Ga berhenti.., dalam pikiran Ya Allah mana baru anak pertama”…katanya

Me :  “Terus Gimana Pak Dim:? (Menyimak dengan antusias)

Pak Dim : “Tetangga saya pada nyuruh ..udah bacain Yasiin aja katanya,

Me : “Masya Allah…”

Pak Dim : terus “Saya bilang : dah bawa ke Rumah sakit aja deh, akhirnya saya  terus lari ke arah Pasar untuk nyarter angkot, setelah dapet..saya bilang ke sopirnya tunggu di sini sebentar yaa Pak…!” terus saya balik lagi ke rumah untuk gendong isteri saya ke angkot, alhamdulillah  Jarak rumah saya ngga terlalu jauh dari sana.”

Pak Dim : “Nah..,Pas udah saya bawa isteri saya ke tempat angkot tadi ternyata angkotnya KABUR zen..!”

Me : “Astaghfirullah…” .. terus Gimana tuh Pak Dim…?”

Pak Dim : “ Ya..saya juga bingung itu mau gimana lagi…mana di Pasar Rame banget,,..Isteri masih kejang-kejang saya gendong.” Tapi Alhamdulillah..ngga lama ada Taksi yang baru aja nurunin penumpang Zen…!” akhirnya saya pake Taksi itu,,,..

Me : Alhamdulillah…terus gmn …?

Pak Dim : “iya Alhamdulillah..udah Sopir taksinya bae banget lagi,..pake ngga mau dibayar, udah gitu pas lagi deket Rel kereta Api waktu mau ada kereta mau Lewat…dia buru-buru keluar..dibuka lagi tuh pintu palang kereta Api biar bisa lewat… “

Pak Dim : “Sampe di rumah sakit isteri saya langsung dimasukin ke Ruang ICU, kata dokternya kalo setengah Jam aja terlambat…sudah ga bakal ketolong lagi isteri saya/”

Me : Emang penyebabnya kenapa kata Dokternya Pak Dim.., kok isterinya Pak Dim bisa kejang-kejang begitu…?”

Pak Dim : “katanya seh karena Darah tinggi…!” , isteri saya ngga sadarkan diri selama satu minggu di RS”

Me : “Terus?”

Pak Dim : “Nah..pas baru sadar tau ga kamu yang diucapinnya pertama kali…?”

Me : “Apa tuh Pak Dim..?”

Pak Dim : “ANAK SAYA MANA…,?”KOK INI PERUTNYA UDAH KEMPES..?”, (sambil menangis)

Pak Dim : “Tuh Zen…begitu kalo Seorang Ibu Mah…!” jadi wajar kalo Surga berada di bawah telapak kaki Ibu

Me :  (Speech Less) * Subhanallah…

Dari Mu’awiyah bin Jaahimah, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : "Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih memiliki Ibu?". Berkata dia : "Ya". Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya". (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

“Ikhwati fillah yang saya tidak habis fikir..,ketika keadaan/keselematan diri sendirinya dulu yang seharusnya lebih ia khawatirkan,  disaat nyawanya menjadi pertaruhan, tetapi tetap  saja ia masih menunjukkan rasa tidak relanya kalo sampai sesuatu yg buruk terjadi kepada buah hatinya, sekalipun itu harus ditukar dengan nyawanya sendiri ia lebih Ridha itu terjadi, daripada Sesutu yang buruk menimpa buah hatinya…Subhanallah…

Ikhwatifillah itulah cinta seorang IBU….

”Nah..sekarang..kita cari tau yuk...bagaimana seh ,,.Islam memuliakan sosok yang satu ini...?”
di dalam Al Qur’an disebutkan :

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (Q.S An Nisa’ : 36).

"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya"..... (QS. Al Isra’: 23).

... dua ayat diatas berisi tentang  perintah secara umum untuk berbuat baik pada kedua orang tua, tapi coba kita Perhatikan lebih seksama, dalam dua ayat tersebut Perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua  seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, dimana kita tau bahwa masalah aqidah (Tauhid) ini menjadi yang paling Pokok dalam Islam,  ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya berbuat baik kepada kedua orangtua.

rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) :"Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua"  (Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).
Berasal dari abu Hurairah Radhiyallahuanh, ia berkata bahwa Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda :”Sungguh Rugi besar, Sungguh Rugi besar, sungguh Rugi besar..!” Kemudian ada sahabat yang bertanya, ”Siapa ya Rasulullah?” , beliau bersabda :”Orang yang pada usia dewasa mempunyai keduaorangtua yang masih hidup, baik salah satu atau keduanya, kemudian orang tersebut tidak berhasil masuk surga .” (H.R Muslim VIII: 5-6)

Nah..Kalo inget kisah istri Pak Dim  yang  tadi, pasti kita jadi teringat ayat ini...

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." (QS. Luqman : 14).

”YupKs..betul Terlebih kepada seorang Ibu... yang disebutkan dalam ayat tersebut bahwa Seorang Ibu  mengandung anaknya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, lalu saat melahirkan pun harus siap mempertaruhkan nyawanya, setelah itu pun masih harus meyapih buah  hatinya selama 2 tahun..Subhanallah ruaarr Biiaaasaaa... ^_^ belum ditambah repotnya membesarkan kita anak-anaknya Wew...

Dalam salah satu hadits pun disebutkan

  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhyallahuanh ia berkata: ”Ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, lalu bertanya : ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak diperlakukan dengan baik dan tulus?” kemudian  Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”Ibumu..!”, laki-laki itu bertanya (lagi) , ”Lalu Siapa?” Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”Ibumu..!” ,laki-laki itu bertanya (lagi) , ”Lalu Siapa?” Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”Ibumu..!” -laki itu bertanya (lagi) , ”Lalu Siapa?” Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam menjawab :”Lalu Ayahmu.” (H.R Muslim VIII : 2)

Subhanallah...
Dari 4 kali pertanyaan Ibu disebut sampe 3 kali sebelum akhirnya Rasulullah menyebutkan ”lalu Ayahmu”  tapi ini jangan dijadikan alasan lantas kita hanya berbuat baik kepada ibu saja ya... tetap kita harus berbuat baik kepada keduanya.

Simak juga kisah yang ini :

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka'bah dan ke mana saja 'Si Ibu' menginginkan, orang tersebut bertanya kepadanya, "Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu, "Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu" [Shahih Al Adabul Mufrad No.9]

” Lalu apa aja seh sebenernya kewajiban kita (sebagai anak) terhadap Orangtua...?”
Bagi orangtua yang masih hidup
  1. Menta’ati perintah mereka selama  itu bukan perintah untuk Maksiat terhadap Allah
Dalam Al-Qur’an disebutkan :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, MAKA SEKALI-KALI JANGANLAH KAMU MENGATAKAN KEPADA KEDUANYA PERKATAAN “AH” DAN JANGANLAH KAMU MEMBENTAK MEREKA DAN UCAPKANLAH KEPADA MEREKA PERKATAAN YANG MULIA”. (Q.S Al Israa’, 17:23)

Perhatikan untuk sekedar mengucapkan kalimat “AH” saja kita dilarang apalagi membentak atau tidak Ta’at terhadap perintahnya,…ayat ini menunjukkan betapa Islam sangat concern terhadap menjaga hati dan perasaan orangtua, betapa Islam memuliakan predikat sebagai orangtua..maka berbahagialah yang sudah berumahtangga dan menjadi orangtua ^_^..

“Lalu bagaimana kalau Orangtua kita menyuruh kepada hal maksiat kepada Allah…?”

kita Flashback sedikit yuk…ke Kisah  Mush’ab bin Umair salah satu Sahabat Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam….

“..…Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang Ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil suatu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula

“….Ketika sang Ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata :”Pergilah sesuka hatimu ! Aku bukan Ibumu lagi .” Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata : ”Wahai Bunda, telah ananda sampaikan nasihat kepada bunda, dan ananda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya.

Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut : ”Demi bintang ! Sekali-kali aku takakan masuk ke dalam agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi.”

Demikianlah Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar san usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.

Tapi Jiwanya yang telah dihiasi dengan aqidah Suci dan cemerlang berkat sepuhan nur Ilahi, telah merubah dirinya, menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani (Rijaal Haular Rasuul - KM Khalid).

Subhanallah...Santun namun tetap Tegas...ya

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S Al ‘Ankabuut : 8)

Masih ada lagi neh...Simak juga  kisah sahabat yang ini :

”...Umar tidak Lupa kisah Sa’ad bin Abi waqqash dengan ibunya sewaktu ia masuk Islam dan mengikuti Rasulullah...Ketika itu segala usaha ibunya untuk membendung dan menghalangi puteranya dari Agama Allah mengalami kegagalan. Maka ditempuhnya segala jalan yang tidak bisa tidak, pasti akan melemahkan semangat Sa’ad dan akan membawanya kembali ke pangkuan agam berhala dan kepada kaum kerabtanya.

Wanita itu menyatakan akan mogok makan dan minum, sampai Sa’ad bersedia kembali ke agama nenek moyang dan kaumnya. Rencana itu dilaksanakannya dengan tekad yang luar biasa, ia tak hendak menjamah makanan atau minuman hingga hampir menemui ajalnya.

Tetapi Sa’ad tidak terpengaruh oleh hal tersebut, bahkan ia tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual agama dan keimanannya dengan sesuatupun, bahkan walau dengan nyawa ibunya sekalipun.

Ketika Keadaan ibunya telah demikian Gawat, beberapa orang keluarganya membawa Sa’ad kepadanya untuk menyaksikannya kali yang terakhir, dengan harapan hatinya akan menjdi Lunak jika melihat ibunya dalam sekarat. Sesampainya di sana, Sa’ad menyaksikan suatu pemandangan yang amat menghancurkan jatinya yang bagaikan dapat menghancurkan baja dan meluluhkan batu karang....

Tapi keimanannya terhadap Allah dan Rasul mengatasi baja dan batu karang manapun juga. Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya, dan dikataknnya dengan suara keras agar kedengaran olehnya :

”Demi Allah, Ketahuilah wahai Ibunda..., seandainya bunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah ananda akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga...! Maka terserahlah kepada Bunda, apakah bunda akan makan atau tidak...!”

Akhirnya Ibunya mundur teratur, dan turunlah wahyu menyokong pendirian Sa’ad serat mengucapkan selamat kepadanya sebagai berikut :

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, DAN PERSAHABATILAH MEREKA DI DUNIA DENGAN BAIK, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S Luqman, 31:15)  

(Rijaal Haular Rasuul - KM Khalid).

Subhanallah...lagi..lagi...Santun namun tetap Tegas...

Dan Subhanallah nya lagi ... begitu Islam sangat memuliakan predikat orangtua sehingga  bisa kita lihat sekalipun sudah nyata  bahwa mereka salah... lebih dari itu..mereka Berbuat dosa Syirik-pun, Islam mengajarkan kepada kita untuk menasehatinya dan tetap  mempergauli /mempersahabati keduanya di dunia dengan baik.

”Menarik Saat Allah menggunakan ungkapan : ”Wa shahibhuma” – (Persahabatilah mereka). Adalah memang tidak pas, jika mereka dirajakan dan diratukan. Mereka pasti tidak akan suka. Dalam siklus hidupnya yang kembali semakin menjadi seperti kanak-kanak, apresiasi yang pas harus kita lakukan. Di pucuk galah usia ini, dalam kalimat Ustadz Didik Purwodarsono, mereka akan mulai merasa tidak dibutuhkan oleh dunia dan merasa tidak membutuhkan dunia...

”Washahibhuma”, dan persahabatilah mereka dengan persahabatan yang paling ma’ruf. Tidak dengan menyakiti, atau ketidakmengertian yang kadang menyakiti. Melarang mereka bekerja dengan alasan sayang padahal sebenarnya karena prasangka bahwa pekerjaannya pasti akan berantakan. Memaksa mereka untuk tetap beristirahat sementara ada keinginan untuk tetap sehta dengan beraktivitas, memarahi mereka habis-habisan karena memanjakan cucu. Semuanya bisa menjadi rasa sakit yang mengiris jiwa sepuh mereka.

 ”Washahibhuma”. Mereka hadir ke hadapan kita di masa tuanya untuk dijadikan sahabat. Sahabat dengan karakter yang khas yang harus kita mengerti, kita beri perhatian, kita beri apresiasi, kita persilakan untuk menempati ranah-ranah kesukaan mereka. Dan itulah bukti cinta kita pada mereka, lalu  kita pun mendo’akan mereka... (Salim A Fillah –Barakallahulaka, Bahagianya Merayakan Cinta)

“dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, (Q.S Asy Syu’araa’, 26:86)

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S Al Ankabuut, 29:8)

kita juga bisa mengambil hikmah dari Kisah Nabi Ibrahim dan Ayahnya yang diabadikan dalam Al-Qur’an :

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan".Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama".Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (Q.S Maryam 44-47)  

2. Memberi Nafkah
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. (Q.S Al Baqarah, 2:215)

Bagi kita yang sudah bekerja namun masih bujangan jelas..., menyisihkan sebahagian penghasilan kita untuk Orangtua merupakan amalan yang utama, ”Namun bagaimana dengan seorang laki-laki yang sudah berkeluarga dan masih punya orangtua...?” dari beberapa penjelasan yang saya dapati ada perbedaan pendapat mengenai masalah ini,  pendapapat yang satu saklak bahwa meskipun sudah berkeluarga bagaimanapun kondisinya tetap harus memprioritaskan nafkah untuk Orangtua sebelum Nafkah kepada Istri dan Anak dalil yang digunakan adalah :

Dari sahabat Jabir bin Abdillah semoga Allah meridhoinya, ia bercerita: "Suatu hari ada seseorang datang kepada Rasulullah dan bertanya: Sesungguhnya aku memiliki harta, akan tetapi bapakku ingin mengambil harta itu dariku? Rasulullah menjawab: "Kamu dan hartamu milik bapakmu" [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas’ud, Lihat Irwa’ul Ghalil 838],

Yang paling berhak atas seorang wanita adalah suaminya. Yang paling berhak atas seorang lelaki adalah ibunya.”(H.R At Tirmidzi)

 lalu Pendapat kedua

Syeikhul Islam ibnu Taimiyah mengatakan apabila seorang anak memiliki kelapangan rezeki maka diperbolehkan baginya untuk memberikan nafkah kepada ayah, ibu serta adik-adiknya dan seandainya ia tidak melakukannya maka sesungguhnya orang tersebut telah durhaka terhadap ayahnya, memutuskan tali silaturahimnya dan berhak atasnya siksa Allah swt di dunia dan akherat. (Majmu’ Fatawa juz IX hal 74)

Tidaklah diwajibkan bagi seorang anak memberikan nafkah kepada ayahnya kecuali jika memenuhi dua persyaratan :
1. Anak itu memiliki kelebihan harta dari kebutuhannya
2. Ayahnya tergolong fakir.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda,” Manfaatkanlah uang ini untuk dirimu sendiri, bila ada sisanya maka UNTUK KELUARGAMU, jika masih tersisa, maka untuk kerabatmu, dan jika masih tersisa, maka untuk orang-orang disekitarmu."

An Nasai meriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah saw bersabda: "Bersedekahlah kalian", lalu seseorang berkata ya Rasulullah aku hanya memiliki satu dinar, beliau menjawab: "Bersedekahlah dengannya untuk dirimu, " ia berkata aku mempunyai yang lain, beliau bersabda: "Bersedekahlah UNTUK ISTRIMU, " ia berkata aku mempunyai yang lain, beliau bersabda: "Bersedekahlah UNTUK ANAKMU, " ia berkata aku memiliki yang lain, beliau bersabda: "Bersedekahlah untuk pembantumu, " ia berkata aku memiliki yang lain, beliau bersabda: "Engkau lebih tahu yang berhak engkau beri."

Lain waktu mungkin kita bahas mengenai perbedaan pandangan ini, namun yang ingin saya tegaskan di sini bahwasanya tidak ada perbedaan bahwa memberi Nafkah kepada orangtua merupakan bagian dari amalan yang utama.

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Q,S Ath Thalaaq : 7) 

3. Mendo’akan mereka
Beberapa dalil yang dapat kita jumpai dalam Al-qur’an diantaranya :

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Israa’ : 24)

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Q.S Ibrahim  : 41) 

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (Q.S Nuh : 28)

dalam hadits :

”Jika seorang anak tak pernah mendo’akan kedua orangtuanya , niscaya rizqinya akan berhenti.” (H.R Al Hakim dalam Tarikh dan Ad Dailami dalam Musnadul Firdaus)

”Lalu bagaimana kewajiban kita terhadap orangtua kita yang sudah meninggal …?”
  1. Tetap mendo’akan mereka ,
Insya Allah sudah kita fahami bersama bahwa diantara amalan yang tidak akan terputus jika seseorang meninggal dunia adalah Do’a dari seorang Anak yang Solih/ah 

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Ikhwatifillah… yang ingin ana tegaskan bahwasanya “Jika kita memang benar-benar mencintai Orangtua kita dengan sepenuh hati” maka tidak ada jalan lain yang bisa kita tempuh selain menjadikan pribadi kita sebagai pribadi-pribadi yang solih/ah, fahamilah..ikhwatifillah…tidak ada lagi seseorang atau orang lain selain kita anak-anak nya yang mampu untuk bisa  membantu menyelamatkan mereka (orangtua) kita khususnya yang sudah meninggal , dengan do’a-do’a yang kita lantunkan di sujud-sujud panjang  shalat kita.   So…!!! Yuk..kita pelajari Islam lebih dalam…jadikan diri kita Pribadi yang solih/ah, sebagai salah satu tujuan nya agar kita bisa menolong orangtua yang sangat kita cintai sebagai balas jasa terhadap mereka.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." (Q.S Al Baqarah : 208)

2. Melunasi Hutang mereka (Jika Ada)
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.”

Ikhwatifillah..hal ini juga menjadi sangat penting...mengingat begitu bnyaknya hadits-hadits yang berisi peringatan keras terhadap orang yang meninggal dan masih menyisakan hutang terhadap oranglain, belajar dari kisah Abu Qutadah yang menanggung hutang seorang muslim yang meninggal maka hutang-hutang orangtua kita yang belum sempat dilunasi sebelum meninggal maka menjadi tanggung jawab kita sebagai anaknya untuk melunasi hutang-hutangnya.

3. Menjalin Silaturahmi dengan kerabat-kerabat mereka
....”Abdullah bin Umar Radhiyallahuanh Menjawab, ”Karena aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”Sesungguhnya termasuk sikap berbuat baik kepada ibu bapak ialah seseorang menyambung tali silaturahim dengan sahabat karib orangtua setelah orangtua meninggal dunia.” (H.R Muslim VIII :6)

Nah..itulah diantara kewajiban-kewajiban kita sebagai anak yang harus kita penuhi terhadap orangtua, sebenernya masih banyak hal-hal yang perlu kita ketahui kaitannya dengan hal tuntunan Sunnah tentang bagaimana berinteraksi dengan Orangtua. Seperti cara memandang, berkata-kata, bersikap, Meminta Izin, Menyambut Kedatangan, dll. Namun mudah-mudahan pemaparan secara umum ini bisa memotivasi kita untuk lebih mencaritahu kelanjutannya...

Huftt....betapa diri inipun Rasanya Masih Jauh sekali dari baik baktinya terhadap Orangtua,

Al haqqu min Rabbik fa laa taquunanna minal mumtarin, Wallahu a’lam bi shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kontributor : Muhammad Haritzahzen

0 komentar:

Posting Komentar